Biskuit Penambah Nafsu Makan Balita

101_4424

101_4423

 Makanan untuk  balita seringkali hanya asal makan saja, tetapi tidak memperhatikan kandungan gizinya padahal asupan gizi yang cukup amat penting untuk menghindari gangguan tumbuh kembang anak akibat kekurangan gizi. Pada tanggal 2 Mei 2013 bertempat di Pendopo Kecamatan Pancoran Mas, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yakni Pelatihan Teknik Penyuluhan Gizi Seimbang bagi Balita Pendek dan Kurus yang disampaikan oleh Dr. Fatmah, SKM, MSc. (Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia) yang diikuti oleh 30 Kader Posyandu terdiri dari 3 Kelurahan dari Kecamatan Pancoran Mas dan 2 Kelurahan dari Kecamatan Bojongsari, dan telah terbentuk 4 (empat) Kelompok Usaha Bersama (KUB).

Bermula pada keprihatinan terhadap balika kurang gizi, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat ini membuat sebuah penemuan yang menggembirakan para ibu dan balita yaitu produkpangan terapi gizi bagi balita kurang gizi. Produk pangan buatan ini adalah biskuit atau cookies yang terbuat dari kurma dan tempe. Kurma banyaknya kandungan karbohidrat (glukosa), vitamin A, vitamin C dan mineral (zat besi), sedangkan pada tempe kandungan protein dan energi yang cukup tinggi.

Tempe untuk bahan baku biskuit ini diproduksi oleh Puslitbang Gizi Bogor dengan menggunakan teknologi pemanasan tinggi yang telah diolah menjadi tepung tempe. Sedangkan untuk kurma yang digunakan adalah kurma yang sudah berbentuk selai, berbeda dengan tepung tempe yang umumnya dibuat karena ada pesanan, selai kurma ini sangat mudah didapatkan karena dijual bebas dipasaran.

 Kandungan lain dalam biskuit ini adalah vitamin A dan Zinc dalam selai kurma yang dapat meningkatkan nafsu makan balita. Biskuit ini bukan merupakan makanan pengganti (replacer meal) melainkan merupakan kudapan sehat untuk menambah nafsu makan.

Kebutuhan kalori anak per hari berkisar 50 – 65% sedangkan untuk sehati dengan takaran 50 gram biskuit akan mencakup 15% kebutuhan kalori, jadi biskuit ini bukan replacer meal. 

Pada kesempatan tersebut  Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, memberikan bantuan peralatan untuk pembuatan biskuit  tersebut dan akan dievaluasi kembali 3 (tiga) bulan kedepan. (Ksm)